Kurang Tidur Membuat Terasa Lapar? Ini BukanSekadar Perasaan tapi kenyataan!

Sering merasa sulit diet, padahal sudah menjagamakan? Bisa jadi biang keroknya bukan makanan, tapijam tidurmu yang berantakan.

12 April 20265 menit bacaNature Communications · 2022

Pernah nggak si, kalian begadang sampai jam 2 malamlalu tiba-tiba pengen makan berat? Padahalsebelumnya sudah makan malam? Itu bukan hanyalemah iman, tetapi terdapat penjelasan ilmiahnya. Simak yuk!

Sebuah studi dari Nature Communications (2022) yang dilakukan oleh Erin Hanlon dan tim dariUniversity of Chicago menemukan bahwa kurangtidur secara signifikan meningkatkan kadarendocannabinoid, Lalu apa itu endocannabinoid? Endocannabinoid adalah senyawa kimia di otak yang memicu rasa lapar dan dorongan untuk makanmakanan enak, terutama tinggi lemak dan gula.

Selanjutnya penelitian dari Sleep journal (Spiegel et al.) menunjukkan bahwa kurang tidur menurunkanhormon leptin (hormon yang mengatur rasa kenyang) dan menaikkan hormon ghrelin (hormon lapar). Kombinasi ini membuat otak “memerintahkan” tubuhuntuk mencari kalori, terutama dari makanan ultra-processed. Jadi, jika sedang berusaha untukmenurunkan berat badan atau menjaga pola makan, tidur yang cukup bukan sekadar “bonus” itumerupakan bagian dari strategi mencapai berat badan ideal. Para peneliti merekomendasikan 7–9 jam tidurper malam untuk orang dewasa, dengan waktu tidurdan bangun yang konsisten, bahkan di akhir pekan.

Nah, untuk kalian yang ingin hidup sehat terutamauntuk yang ingin memiliki badan ideal, bisamemulainya dari kebiasaan kecil, seperti mengatur”jam mati layar” setidaknya 30 menit sebelum tidur. Cahaya biru dari hp dan laptop menekan produksimelatonin sehingga menjadikan susah untuk tidur. Dengan begitu kalian bisa tidur lebih awal dan pelanpelan memperbaiki jam tidur yang berantakan.

Sumber

Hanlon, E. C., et al. (2022). “Sleep restriction enhances the daily rhythm of circulating levels of endocannabinoid 2-arachidonoylglycerol.” 

Spiegel, K., et al. “Brief communication: Sleep curtailment in healthy young men is associated with decreased leptin levels.” Annals of Internal Medicine, 141(11), 846–850.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *