Jumat, 26 Juni 2026
Healzy.id – Fenomena brain rot kembali ramai menjadi perbincangan di media sosial. Seorang guru besar FMIPA UI, Prof. Zulys, mengunggah video edukasi mengenai dampak konsumsi konten receh dan cepat secara berlebihan melalui akun TikTok-nya @prof.zulys pada Rabu (20/5/2026). Konten tersebut menarik perhatian warganet karena membahas bagaimana kebiasaan scrolling video pendek dapat memengaruhi cara berpikir dan kesehatan otak.
Apa itu Brain Rot?
Secara istilah brain rot merupakan fenomena penurunan kemampuan berpikir akibat terlalu sering mengonsumsi konten pendek, dangkal, dan penuh hiburan instan. Meskipun bukan penyakit resmi, istilah ini mulai banyak digunakan untuk menggambarkan kondisi otak yang sulit fokus akibat paparan konten digital secara terus-menerus.
Menurutnya, konten brain rot biasanya berisi informasi cepat, random, absurd, dan sering sekali tidak masuk akal. Konten seperti ini dianggap menarik karena mampu memberikan hiburan instan tanpa memerlukan proses berpikir mendalam.
“Kalau hiburan membuat ketawa itu sehat, tapi kalau hiburan membuat kita berhenti berpikir, itu cara pelan mematikan otak kita,” ujar Prof. Zulys.
Ia menjelaskan bahwa fenomena tersebut berkaitan dengan sistem dopamin di otak. Setiap kali seseorang melihat video lucu atau menemukan konten baru saat scrolling, otak akan memberikan “reward” kecil berupa rasa senang. Karena konten pendek terus muncul secara cepat dan penuh kejutan, otak menjadi terbiasa mencari stimulasi instan sehingga bisa memicu kecanduan digital. Akibatnya seseorang menjadi sulit untuk fokus, mudah bosan, tidak tahan menonton video berdurasi panjang, hingga menyebabkan penurunan daya ingat. Informasi yang diterima juga dinilai sulit tersimpan di dalam ingatan jangka panjang karena otak terus dipenuhi oleh stimulasi baru.
Apa dampaknya?
Fenomena ini dinilai semakin berbahaya bagi anak muda karena perkembangan otak mereka masih berlangsung. Dampaknya juga dapat berupa gangguan konsentrasi belajar, ketergantungan gadget, gangguan emosi, hingga meningkatnya risiko depresi dalam jangka panjang.
Prof. Zulys juga menyoroti peran algoritma media sosial yang dirancang untuk membuat pengguna terus menonton selama mungkin. Menurutnya, sistem tersebut membuat pengguna lebih mudah terjebak dalam konsumsi hiburan instan tanpa sadar.
Melalui video tersebut, Prof. Zulys mengajak masyarakat untuk lebih bijak dalam menggunakan media sosial dan mulai membatasi konsumsi konten yang tidak memberikan manfaat bagi perkembangan pola pikir.