Di Balik Hari Buruh, Pekerja Berjuang Menjaga Kesehatan Mental

Selasa, 5 Mei 2026 | 11.12 WIB

Buruh angkut Trio Plaza – Selasa, 5 Mei 2026

Healzy.id – Hari Buruh Internasional 1 Mei, bukan sekedar hari libur atau tanggal merah saja, tetapi juga diperingati sebagai simbol perlawanan pekerja demi keadilan. Hari buruh ini juga bisa menjadi refleksi atastekanan ekonomi dan beban mental yang kinidirasakan oleh buruh di berbagai sektor. Ketidakpastian kerja, penurunan pendapatan, hinggatuntutan pekerjaan yang semakin kompleks menjadirealitas yang harus mereka hadapi sehari-hari.

Berdasarkan data Indonesia.id yang mengacu pada survei Gallup di negara Asia Tenggara pada 2021 hingga akhir Maret 2022, sebanyak 20 persen dari1.000 responden mengaku merasa stres saat berada di tempat kerja. Selain itu, data Kementerian Kesehatan RI tahun 2023 menunjukkan bahwa 83 persen pekerjadi Indonesia mengalami gejala burnout. Kondisitersebut menunjukkan bahwa tekanan kerja tidakhanya berdampak pada ekonomi, tetapi juga kesehatanmental para pekerja.

Salah satu pekerja jasa pemotong rumput di Magelangyang telah menjalani profesinya selama enam tahunmengaku pekerjaannya tidak selalu mudah. Ia harusmenyesuaikan diri dengan kondisi lapangan yang sering berubah-ubah, mulai dari cuaca, medanpekerjaan, hingga tuntutan pelanggan. Meskidemikian, ia tetap berusaha menjalani pekerjaannyademi memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

“Namanya bekerja, kadang berat kadang tidak. Tapi disesuaikan saja, yang terpenting dijalani,”ungkapnya.

Tekanan juga dirasakan oleh Gerda (20), seorangpekerja pada sektor Finance. Ia mengungkapkanbahwa penurunan penjualan setelah periode Lebaranmembuat target kerja terasa semakin berat. Persainganyang ketat serta perubahan perilaku pada konsumenyang lebih memilih berbelanja secara online dibandingkan datang langsung ke took turutmenambah beban pikirannya.

“Kadang jadi stress karena harus memenuhi target (target harus tercapai),” katanya.

Saat merasa stress, Gerda memilih untuk menyendirisejenak untuk menenangkan pikirannya.

Di sisi lain, Guntur (22), yang baru saja lulus dan kinibekerja di bidang HR di Perusahaan Lidah Buaya merasakan tekanan yang besar. Guntur menyebutbeban kerja yang menumpuk sering membuat lelahmental. Meski demikian, Guntur tetap mengaturdengan membuat to-do-list supaya semuapekerjaannya diselesaikan secara rapi.

Meski berlatar belakang pekerjaan yang berbeda-beda, akan tetapi memiliki kesamaan tekanan ekonomi yang berdampak kepada kondisi Kesehatan mental. Rasa Lelah, khawatir, hingga stress yang diakibatkantanggungan pekerjaan yang harus dihadapinya. Tetapi, dibalik itu semua tersimpan upaya untuk beristirahat, mencari hiburan, hingga memberi ruang diri sendiriuntuk menyendiri menenangkan pikiran. Hal sederhana inilah yang menjadi jalan mereka menjagakeseimbangan di Tengah kondisi yang tidak seimbang.

Para buruh berharap, kondisi ekonomi membaik dan dapat bekerja dengan tenang tanpa terbebani secaramental.

Hari buruh menjadi pengingat bahwa perjuangan pekerja tidak hanya mengenai gaji tetapi juga mengenai bagaimana bisa untuk tetap kuat mental untuk menghadapi kehidupan sehari-hari kedepannya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *